.::Selamat Datang di Situs Kami , Semoga Website Kami ini Memberikan Pencerahan kepada Sahabat-Sahabat Mengenai Agama Kita yang Tercinta, Selamat Menikmati Hidangan Kami, dan Mohon Doanya ya Agar wAbsite Kami Tetap Eksis!! Amin::.
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Januari 2009

Gadis Pengemis yang Tergeletak di Tepi Jalan

Awan sudah mulai berwarna orange di sebelah barat kota Kairo, matahari pun rupanya ingin beristirahat sejenak setelah terbit hampir dua belas jam penuh. Indahnya kota Kairo ku nikmati di dalam bus delapan puluh coret, setelah sepulangnya kuliah dan bimbingan belajar. Ku hirup udara kota Kairo di tengah hiruk pikuknya kendaraan yang lalu lalang. Dan ku keluarkan lagi nafasku dengan pelan-pelan, terasa nikmatnya nafas gratisan ini yang diberiakan oleh Allah kepadaku.

Bus delapan puluh coret pun berlari dengan sekuat tenaga, saling berkejaran dengan mobil-mobil yang lainnya. Kemudian hatiku berdzikir mengumandangan Asma Allah yang dapat menenangkan hatiku dan otakku yang sudah ku gunakan dan ku peras untuk mempelajari ilmu Allah yang begitu luasnya. Lega rasanya Islam lah agamaku, seandainya ku terlahirkan bukan dikalangan umat Islam, apakah aku akan menemukan Islam dalam kehidupan yang sangat cepat ini. Hanya HidayahMu lah ya Allah yang sangat dinanti-nantikan oleh umat seluruh dunia.

Gedung-gedung menjulang tinggi ditambah lagi dengan arsitektur yang yahud, membuat hatiku bergumam, ya Allah ciptaanMu sungguh mengagumkan, membuat ku semakin cinta kepadaMu. Namun dibalik gedung-gedung tersebut, membuat hatiku miris melihatnya. Ternyata dibalik gedung-gedung tinggi itu masih banyak orang yang tidak memiliki rumah, mereka tidur dimanapun ia singgah, dan tak peduli dengan dinginnya malam hari dan panasnya terik matahari pada siang hari, yang mereka pedulikan adalah bagaimana menyambung hidup untuk esok hari, namun di dalam sakunya sudah tidak ada sepeserpun untuk membeli makanan.

Ketika bus delapan puluh coret yang ku tumpangi sudah sampai di daerah Maqram ‘Abid, aku melihat dari jauh ada krumunan di samping toko computer yang bertingkat, tadinya aku tidak mengetahui krumunan apa itu karena posisiku dengan tempat kejadian masih cukup jauh, namun setelah busku semakin mendekat ke krumunan itu, aku melihat sesosok gadis pengemis yang tergeletak ditepi jalan, gadis itu berusaha dibangunkan oleh seorang ibu setengah baya yang memiliki bayi dipangkuannya dan seorang anak kecil yang berpenampilan kumel. Namun anehnya, banyak orang yang melihat kejadian itu tetapi tidak ada seorang pun yang membantunya dan bahkan terkesan tidak memperdulikannya.

Hatiku menangis dan menjerit, kenapa ia tidak ditolong, ia butuh bantuan, apakah karena ia rakyat kecil yang sehari-harinya bekerja sebagai pengemis sehingga tidak ada satupun orang yang menolongnya. Padahal kejadian itu bukan di daerah yang miskin, tetapi di Kairo, kota yang katanya metropolitan. Sehingga aku pun bergumam “Ah… seginikah kejamnya dunia ini, sehingga orang itu dibiarkan saja”.

Disini, di kota kairo, perbedaan antara si kaya dengan si miskin sangat mencolok sekali, bahkan aku tak habis pikir dengan kajadian yang baru saja ku lihat. Seandainya ia diperhatikan saja, mungkin ia akan mempunyai tempat tinggal, dan juga kesehatan yang layak, namun apa yang ku lihat sekarang, seoarang gadis pengemis yang tak sadarkan diri ditengah gedung-gedung yang tinggi menjulang. Hari ini membuat hatiku gemetar, dan berdoa “Ya Allah, semoga gadis pengemis itu baik-baik saja”.

Rabu, 19 November 2008

Kisahku yang Mengecewakan dengan Pemilik Toko

Sudah sepuluh hari ini komputerku tidak menyalah, sehingga terbengkalailah tugas-tugas ku untuk menulis. Sepuluh hari terakhir ini aku meminjam komputer temanku untuk sekedar menulis artikel dan membaca berita dunia. Entah mengapa setelah pulang dari Indonesia, komputerku tidak aktif, setelah diteliti apa yang rusak oleh sahabat-sahabatku, lalu sahabat-sahabatku menyuruh untuk menukarmother board-nya, kebetulan motherboard yang aku beli ada garansinya selama tiga tahun.


Tanpa berfikir panjang aku pun membawa motherboard yang rusak itu ke Sarog Mall, tempat aku membeli motherboard. Sesampainya di sana, aku langsung berkata kepada pemilik tokonya, bahwa motherboardnya sudah rusak. Pemilik toko langsung memeriksa motherboardku yang rusak itu dengan teliti, apakah ada cacat atau tidak, karena garansi dapat berlaku untuk kerusakan yang diakibatkan oleh alat itu sendiri, bukan kerusakan akibat kesalahan pemiliknya, oleh karena itu jika ada cacat, maka garansinya tidak berlaku.


Setelah sekian lama diteliti oleh pemilik toko itu, ternyata motherboardku tidak ada cacat sama sekali, sehingga garansinya pun berlaku. Pemilik toko itu menyarankan aku untuk pergi ke Mesir Heliopolis, disana tempat pembuatan motherboardku yang bermerek MSI. Pemilik toko tidak bertanggung jawab atas kerusakan ini, dikarenakan motherboardku sudah dua tahun ditanganku. Pemilik toko mau bertanggung jawab jika motherboard itu masih berumur satu tahun, oleh karena itu setelah satu tahun maka garansi dipegang sepenuhnya oleh perusahaan yang membuat motherboard itu.


Tetapi aku tidak mengetahui dimana letak perusahaan itu berada, jangankan letak perusahaannya, lokasi Mesir Heliopolis saja aku belum mengetahuinya. Maka ku sampaikanlah kepada pemilik toko itu bahwa aku tidak mengetahui lokasi yang dimaksud. Akhirnya pemilik toko mau membantuku untuk menyerahkan motherboard itu, tetapi aku harus menunggu selama tujuh hari untuk sampainya motherboard itu ketanganku. Akhirnya aku pun setuju dengan sebuah kesepakatan, yaitu motherboard itu ditangani oleh pemilik toko tetapi dalam jangan waktu tujuh hari baru bisa diambil.


Tujuh hari ku tunggu-tunggu, akhirnya sampailah tujuh hari kemudian. Dengan semangatnya aku pergi ke Sarog Mall dengan sahabatku dan sekaligus seniorku untuk mengambil motherboard ku. Sesampainya disana aku sangat kecewa sekali, karena pemilik toko tidak menepati janjinya, entah apa yang ada dibenakku saat itu, yang hanya adalah kekecewaan yang menyelimuti diri. Dengan gampangnya pemilik toko itu berkata bahwa besok baru dapat diambil. Akhirnya kekecewaan itu bisa ku tutupi dengan senyuman dan tentunya juga kesabaran.


Keesokan harinya, disaat aku berangkat dengan sahabatku, ada sebuah benak keragu-raguan, bahwa akan ada pengunduran pengambilan motherboardku itu. Aku teringat mitos yang beredar dikalangan masyarakat Indonesia yang berada di Mesir, bahwa orang Mesir memaknai ‘besok’ itu bukan satu hari, tapi bisa dua hari lagi, tiga hari lagi atau bahkan bisa tujuh hari lagi. Inilah perasaan yang selalu bergoyang-goyang difikiranku, ketika aku akan berangkat ke Sarog Mall.


Akhirnya tibalah aku dan sahabatku di toko yang kami tuju, sejurus kemudian aku menyerahkan kuitansi yang aku bawa sebagai tanda bukti untuk mengambil motherboardku yang rusak. Diambilnya kertas itu oleh pemilik toko, kemudian pemilik toko diam sejenak, lalu dengan nada hati-hati ia berkata bahwa belum dapat diambil sekarang, insya Allah besok atau besok lusa baru bisa diambil. Mendengar perkataan pemilik toko itu sontak aku langsung lemas, lemas karena segala perasaan terkumpul menjadi satu, mulai dari lelahnya perjalanan dari rumahku ke Sarog Mall karena sarag mall berada di dalam daerah, sehingga aku menempuhnya dengan berjalan kaki setelah naik angkutan umum, hingga kekecewaan yang membuncah dihatiku. Maka benarlah mitos yang beredar dikalangan masyarakat Indonesia yang tinggal di Mesir.


Beginikah orang Mesir jika berjanji, anehnya yang berjanji itu pembisnis, entah sudah adat ataukah hanya tergantung orangnya, kebanyakan orang Mesir sulit untuk menepati janji dengan pasti. Bagi mereka janji adalah biasa, dengan pengunduran janji segala janji yang telah disepakati hilang tanpa bekas begitu saja. Apakah pemilik toko tidak mengetahui bagaimana kecewanya aku, dan bagaimana ia telah membohongi aku.


Begitulah kisahku dengan pemilik toko, tulisan ini bukanlah bertujuan untuk menggunjing pemilik toko itu, tetapi disini kita bisa mengambil dua pelajaran. Yang pertama kita akan belajar tentang mengkaji perasaan. Jika saya diingkari janji dengan orang lain dan sudah tentu kekecewaan yang timbul maka aku tidak akan mengingkari janji lagi, jika aku mengingkari janji lagi maka kekecewaan yang sama akan timbul dibenak hati orang yang kuingkari janjinya, inilah yang disebut dengan mengkaji perasaan. Kemudian yang kedua, betapa pentingnya menepati janji, dengan menepati janji kita bisa terhindar dari dusta, dan dengan menepati janji pula lah yang akan mempermudahkan hubungan sosial kita, yang akan berefek dalam segala hal bidang yang berkaitan dengan sosial dan bisnis.

Jumat, 14 November 2008

Perjalananku yang Menakjubkan Menuju Kampus

Dipagi yang cerah aku bergegas untuk pergi ke kampus tepat waktu, memang kali ini aku agak terburu-buru, namun aku yakin kali ini aku akan mendapatkan ilmu dan pelajaran yang banyak di kampusku tercinta Universitas Al-Azhar, aku mencintai Al-Azhar sama seperti seorang laki-laki yang kagum dengan wanita, “Wah... alangkah indahnya dunia ini” tiba-tiba saja terlintas difikiranku perkataan seperti itu.


Aku keluar dari pintu flatku dengan seonggok senyuman yang merona diwajahku, senyuman masa depan dan senyuman tanda syukur kepada Allah SWT. yang telah memberikan kenikmatan yang begitu banyak kepadaku “Hamdulillah wa syukru lillah”. Ku uluk salam kepada keluargaku (teman-temanku yang sudah aku anggap sebagai keluarga) tanda permintaan doaku kepadanya, agar hari ini Allah SWT. benar-benar meridho’i perjalananku dalam menuntut ilmu-Nya yang begitu luas, “Bismillahir rohmanir rohim”.


‘Delapan Puluh Coret’ sebutan mobil bus yang akan kutumpangi pergi ke kampus, nama yang aneh, namun mobil bus ini sangat penting bagi kebanyakan mahasiswa Indonesia yang tinggal di Nasr City. Selain itu ada satu lagi mobil bus yang tidak kalah menterengnya dibandingkan delapan puluh coret, yaitu mobil bus ‘Enam Puluh Lima Kuning’, bus yang satu ini sebenarnya tidaklah layak untuk ditumpangi oleh orang banyak karena hampir semua fasilitas mobil bus ini rusak, namun apa boleh dikata jika keadaannya begitu, hajar terus demi menggapai cita-cita.


Akhirnya mobil yang kutunggu-tunggu datang juga, sekitar setengah jam aku menunggu mobil bus ini, “Wah...penuh sekali mobilnya” gumamku dalam hati. Tapi dengan tekad yang bulat aku memberanikan diri untuk bergelantungan dipintu belakang mobil, penat rasanya tanganku dan ditambah lagi dengan hawa dingin yang merasuk pori-poriku, namun aku yakin inilah perjuanganku untuk mencari ilmu, dan aku yakin Allah SWT. Melihatku dan ini akan menjadi doa agar Allah SWT. Selalu memberikan kemudahan dan yang terbaik bagi study ku di Mesir ini.


Seiring banyaknya penumpang yang turun akhirnya aku bisa masuk juga ke dalam mobil bus, namun masih agak sesak. Bagaimana tidak sesak, jika di samping kananku, di samping kiriku, di depanku dan di belakangku terdapat orang yang berdesakkan, namun hamdulillah aku masih bisa menghirup udara tanda kenikmatan Allah yang Maha Agung.


Pada saat itu aku melihat ada seorang pria yang sedang berdiri di sebelah kiri ku, dari raut wajahnya aku mengenalnya bahwa orang itu berasal dari Asia Tenggara, namun aku masih bingung apakah ia orang Indonesia, Malaysia ataukah Singapura. Tapi aku lebih condong kalau ia adalah orang Indonesia, jika dilihat dari segi pakaian.


Aku terus memperhatikan pria ini, dengan sekejap aku tertegun dan terpana disaat aku sadar bahwa ia terkantuk berat, matanya sendu. Tiba-tiba tubuhnya hampir jatuh, namun ia masih bisa menahan keseimbangan tubuh, kejadian itu sampai tiga kali berturut-turut terjadi, dan hebatnya lagi ia berdiri dengan mata yang terpejam, “Subhanallah, muliakanlah orang ini ya Allah, ia menuntut ilmu dengan sedemikian rupa”.


Aku tidak menganggapnya ini adalah sebuah hiburan, namun bagi orang lain yang satu bus denganku, mereka tertawa seperti bahagia melihat pemandangan yang terkesan humor itu. Disisi lain aku dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini. Menurutku peristiwa ini sangat penuh dengan pesan bagi para penuntut ilmu.


Aku yakin pria itu belajar dengan sekuat tenaga sehingga terkantuk begitu berat yang menjadikan ia tidur dengan posisi berdiri. Cuaca yang dingin, kondisi yang tidak stabil dan lain-lainnya yang ada di Mesir, namun tak membuat ia gentar, ia kuliah dengan langkah tegap, dan menyongsong masa depan dengan cerah. Walaupun setumpuk batu yang mengganjal di bola matanya yang seakan-akan mengajaknya untuk tidur. Walaupun dengan kantuk yang tak tertahankan ia masih bisa kuliah dengan penuh semangat. Oleh karena itu janganlah kalah dengan pria ini, sebagai penuntut ilmu jangankan kantuk, ombak saja diterjang bila perlu. Karena kita mengetahui bahwa hukum menuntut ilmu adalah wajib.


Terima kasih sahabat, denganmu aku mendapatkan ilmu yang banyak, ini adalah perjalananku menuju kampus yang menakjubkan. Syukurku, ku panjatkan kepada Allah SWT., karena di dalam perjalanan saja banyak ilmu yang aku ambil jika aku mau memikirkannya, apalagi jika aku belajar dan terus belajar, mungkin berapa banyak ilmu yang aku terima setiap harinya. Terima kasih ya Allah.

Selasa, 03 Juni 2008

Melihat Kebesaran Allah di Langit Jam 12 Malam

Jarum jam sudah menunjukan jam 12 malam, detikpun berjalan meninggalkan angka 12, pelan namun pasti, ada apa dengan jam 12 malam kali ini? Jam 12 malam kali ini sungguh berbeda dengan jam 12 malam yang kemarin, lusa dan seterusnya, karena tanggal ini adalah tanggal spesialku, karena pada tanggal inilah aku menghirup udara untuk pertama kalinya, pada tanggal inilah aku melihat sungguh fananya dunia untuk yang pertama kalinya, pada tanggal inilah air mataku mengalir untuk pertama kalinya, entah itu air mata kesedihan atau air mata kebahagiaan, karena pada tanggal inilah aku dilahirkan oleh Ibunda tersayang ke dunia yang penuh dengan cobaan dan rintangan ini.

Ku berfikir sejenak dengan hakikat hari kelahiranku itu, maka aku akan mendapatkan berbagai fenomena-fenomena yang sungguh luar biasa pada hari itu, bagaimana Ibunda yang tercinta rela berkorban demi anaknya, bukan hanya korban fisik bahkan nyawanya pun menjadi taruhannya, bagaimana di sekelilingiku sanak famili tersenyum riang mendengar jeritan suara tanda kelahiranku, sedangkan aku menangis tersendu-sendu. Bagaimana pada waktu itu aku tak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk menggerakkan kelopak mata pun aku tak sanggup, yang hanya adalah keluguan dan ketidakberdayaan seorang bayi yang baru terlahir di dunia ini, dan bahkan bagaimana bahagianya kedua orang tua ku ketika anaknya sehat secara lahir dan batin tanpa adanya kekurangan sedikitpun.


Aku langsung menuju shutuh (Tingkat yang teratas pada sebuah flat), di sanalah aku ingin merenung sendiri, men-tadaburi segala dosa yang pernah ku lakukan selama satu tahun yang lalu, dan ingin menyadari siapakah aku dan bagaimanakah aku sebenarnya. Kadang manusia terlalai dari segala kenikmatan dunia, yang seharusnya kenikmatan itu sebagai jalan untuk mendekatkan diri ke-hadirat Allah, tetapi manusia malah sebaliknya, mengambil jalan yang tidak biasa dan jalan yang bengkok, yaitu menggunakan kenikmatan itu hanya untuk memuaskan hawa nafsunya sehingga hanya lah penyesalan di akhirnya, padahal semuanya fana, yang kekal hanyalah dzat Allah SWT., maka di manakah posisi kita sekarang?


Pertanyaan di atas sangatlah berat untuk seorang aku, yang penuh dosa dan penuh khilaf, tak terkecuali yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Aku merenung semakin dalam, maka hanya tetesan air matalah yang keluar dari kelenjar mata dan suara jeritan hati ku yang membisingkan seluruh rongga badanku, sungguh betapa jauh dan jauhnya aku di hadapan Allah SWT., ini semua adalah sebagai jawaban atas segala perenunganku saat itu. Sering sekali aku berbuat sombong tetapi apa dayanya jika aku ukur dengan kekuasaan Allah SWT. yang sungguh dan benar-benar besar, yang kekuasaanNya meliputi dimensi satu hingga tak berdimensi. Jangankan di ukur dengan kekuasaan Allah SWT. seluruhnya, dari superkluster hingga yang paling kecil yaitu atom saja aku tak ada apa-apanya, hanyalah sebutir pasir di padang sahara yang sungguh luasnya bahkan sebutir pasirnya pun tak sempurna lagi dikarenakan dosa yang ku lakukan. Tiba-tiba semakin deraslah tetesan air mataku dan semakin cepatlah sesenggukkan ku di atas flat tempat tinggalku di saat memikirkan hal itu.


Ditengah-tengah sesenggukkan dan tetesan air mataku itu, aku terngiang akan umurku yang sudah menginjak 20 tahun. 20 tahun adalah umur yang tidak sedikit, aku mencoba me-replay ulang kejadian-kejadian yang telah ku lewati selama 20 tahun yang lalu, mulai dari kejadian yang sungguh istimewa bagiku, hingga kejadian yang sungguh memalukkan bagiku. Maka lemas lah dan habislah air mataku dibuatnya, ya Allah SWT. jadikanlah air mata ku ini sebagai saksi atas hambaMu ini ketika hari persaksian dan penghisaban telah berada didepan hambaMu, sebagai saksi betapa hambaMu ini mengharapkan ridha Mu.


Setelah itu aku hapus air mata dan bersujud dengan selama-lamanya, sujud syukur ku atas segala nikmat yang telah di berikan oleh Allah SWT. kepada ku mulai dari kenikmatan yang terasa bagiku hingga kenikmatan yang luput dariku. Sujud taubat ku atas segala dosa dan kekhilafan yang aku lakukan selama ini dari dosa yang kecil hingga dosa yang paling besar, dan sujud doa ku atas segala daya upaya yang akan kulakukan pada masa yang akan datang, agar terjaga dan terhindar dari perbuatan dosa yang sungguh sangat mencekam di hati dan terasa qalbu ini terisi oleh racun yang sangat mematikan hingga tercabik-cabik tak terasa lagi jikalau aku melakukan kemaksiatan lagi.


Ku angkat sejadahku, dan ku pindah ketempat yang lebih tinggi, sejurus kemudian ku gelar kembali sejadah itu di tempat yang tinggi, dan ku berbaring daripadanya, yang pada akhirnya ku melihat kebesaran Allah di langit jam 12 malam, di shutuh flatku.

Template by - Abdul Munir - 2008