.::Selamat Datang di Situs Kami , Semoga Website Kami ini Memberikan Pencerahan kepada Sahabat-Sahabat Mengenai Agama Kita yang Tercinta, Selamat Menikmati Hidangan Kami, dan Mohon Doanya ya Agar wAbsite Kami Tetap Eksis!! Amin::.
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Februari 2009

Sebuah Paket dan Perjalanan yang Fenomenal (Bag 1)

Ku awali pagi ini dengan sebuah senyuman yang riang di bibirku. Sebuah senyum yang sangat ku nikmati keindahannya. Ditemani udara kota Kairo yang dingin, aku menyelami kehangatan ayat-ayat suci al-Qur’an dari speaker komputerku yang menyuarakan lantunan indah Syeikh Mishary bin Rashid al-Efasy, yang hingga kini ku kagumi keindahan suaranya.

Tiba-tiba handphone K770i ku berbunyi sambil menari-nari akibat getaran yang aku setting bersamaan dengan ringtone. Sebuah nomor sedang menghubungiku. Aku tak mengenal nomor itu. Ketika ku terima telpon itu, suara keras langsung menusuk ke gendang telingaku “Assalamu’alak, Ma’a Idi Nursiha?” (Assalamualaikum, ini Adi Nurseha?), dengan respon ku menjawab “Aiwa, Ma’a Idi Nursiha, min ma’aya?” (Iya betul, ini Adi Nurseha, ini siapa yah?). Ternyata yang menghubungiku adalah tukang pos.

Memang sudah hampir 7 hari ini aku menunggu kedatangan tukang pos ke rumahku untuk membawakan sebuah paket yang dikirim oleh keluargaku tercinta (terimakasih untuk Mamah dan Ade Eka) yang berada di belahan bumi bagian timur sana . Aku bersyukur sekali karena pengharapanku hampir saja terwujud karena tukang pos akan datang ke rumahku mengantarkan paket yang berisi obat batu ginjal dan sepucuk surat dari keluargaku tercinta.

Penyakit batu ginjal yang ku idap sekarang ini sudah hampir berusia sepertiga tahun. Oleh karena itu, hari-hariku semakin bermakna dan penuh kesyukuran kepada Allah SWT. Karena dengan penyakit ini aku dapat mengetahui bagaimana indahnya nikmat sehat, dan dengan penyakit ini pula aku dapat mengingat kematian. Semua makhluk hidup akan mengalami kematian. Kematian adalah sesuatu yang mesti terjadi, dan sesuatu yang akan terjadi adalah sangat dekat sekali adanya.

Pukul 11:00 tepat tukang pos memencet bel flatku. Aku segera beranjak dari tempatku untuk menyambut kedatangan sebuah paket yang sangat ku nantikan itu. Ketika ku buka pintu depan rumahku, seonggok manusia yang tinggi dengan pakaian ciri khas orang Mesir menyodorkanku sepucuk surat . Aku tercenung karena tukang pos hanya membawa sepucuk surat untukku. Ia tidak membawa sebuah paket yang istimewa itu. Aku bertanya tentang keberadaan sebuah paket yang ku dambakan ada ditanganku saat itu, namun tukang pos menjawab dengan santainya, bahwa paket itu bisa diambil di kantor pos daerah Attaba’. Ternyata surat yang diberikan kepadaku itu berisi tentang panggilan kepadaku untuk mengambil paket di sebuah tempat, tetapi di surat itu tidak tertulis jelas bahwa aku harus mengambilnya di kantor pos daerah ‘Attaba. Kekecewaan sedikit muncul dalam benakku, namun ku berusaha menghapus dalam-dalam rasa kecewa itu dengan sebuah senyuman. Aku yakin ini adalah sebuah perjuanganku agar penyakitku segera diangkat oleh Allah melalui obat itu dan dapat beraktivitas dengan normal apa adanya. Juga sebuah pengorbanan bagiku demi sebuah surat yang sungguh istimewa bagi masa depanku.

Akhirnya aku termenung sejenak sambil melihat isi surat pemberian tukang pos itu, dan mulai memikirkan rencana untuk mengambil paket tersebut karena sejujurnya aku belum paham betul dengan tempat yang diberitahukan oleh tukang pos. Tiba-tiba saja sebuah pikiran terlintas untuk bertanya kepada temanku, mungkin saja temanku ada yang mengetahui. Tepat sekali, ternyata mas Hasan (lengkapnya Hasan Basri) mengerti, bahkan beliau mengetahui dimana letak kantor pos Attaba’. Sore harinya, kami pun berangkat menuju kantor pos di daerah Attaba’, “Semoga aku dapat mengambil paketnya hari ini” celetuk harapanku dalam hati. Sebenarnya aku harus mengambil paket tersebut hari ini karena aku sangat butuh sekali dengan obat itu. Persediaan obat milikku sebentar lagi habis.

Hampir satu jam aku di terminal untuk menunggu angkutan umum yang menuju ke Attaba’, namun tak satu pun ku temukan angkutan umum ke daerah Attaba’. Akhirnya aku dan mas Hasan memutuskan untuk pergi ke terminal Sabie’. Katanya disana banyak sekali angkutan umum yang menuju daerah Attaba’. Tak lama kemudian aku dan Mas Hasan langsung menaiki el-tramco untuk menuju terminal Sabie’. Sesampainya di terminal Sabie’, aku melihat ada angkutan umum yang menuju ke daerah Attaba’. Saat aku menaiki mobil itu, tiba-tiba sang supir menyapaku “Enta ruh fien?” (Kamu hendak pergi ke mana?), aku menjawab saja sekenanya “Ana ruh ila attaba’” (Saya hendak pergi ke Attaba’). Menanggapi jawabanku, sang supir langsung menggelengkan kepala sambil berkata “la’ah” (tidak ke sana ), komentarnya singkat. Akhirnya aku tertunduk lemas, ternyata mobil yang ku tumpangi itu tidak pergi sampai ke Attaba’, tetapi sebelum Attaba’, padahal aku melihat sendiri tulisan “Attaba’” di atas kaca mobil itu. Akhirnya aku bersabar menunggu angkutan yang lainnya. Setengah jam kemudian aku melihat angkutan umum yang menuju Attaba’, “Semoga angkutan kali ini benar-benar ke Attaba’”. Ketika mobil itu berhenti di terminal, aku dan mas Hasan langsung bertanya kepada supir angkutan umum itu. Ternyata jawaban sang supir kali ini pun membuat hatiku harus kembali bersabar karena angkutan umum yang sekarang berada di depanku ini tidak mengangkut penumpang lagi. Aku dan mas Hasan pun menunggu angkutan umum untuk ketiga kalinya. Di saat senja mulai memasuki kota Kairo, badan ini sudah letih menanti angkutan umum yang tak kunjung datang. Akhirnya kami memutuskan untuk meneruskan perjuangan ini keesokan harinya, namun tiba-tiba saja angkutan umum yang menuju Attaba’ datang. Wajah yang sumringah terlihat di wajah kami berdua, dan sebuah pengharapan pun mengalun menusuk pikiran “Semoga angkutan umum kali ini benar-benar ke Attaba’”. Sejurus kemudian mas Hasan pun bertanya kepada sang supir angkutan umum itu, dan jawabannya membuat hati kami bahagia. Mobil itu akan menuju Attaba’. Keluh dan kesah hilang ketika supir menerima kami sebagai penumpangnya. Aku merasakan kenikmatan atas kesabaran kami hari ini, “hamdulillah” puji syukurku.

Akhirnya kami sampai juga di terminal Attaba’. Satu jam sudah berlalu perjalanan kami dari terminal Sabie’ hingga terminal Attaba’. Tanpa basa basi kami pun turun dari angkutan umum dan langsung pergi ke tempat tujuan, yaitu kantor pos daerah Attaba’. Sesampainya di kantor pos, kami bertanya perihal kedatangan surat itu kepada petugas kantor pos, dan jawaban tak ku sangka-sangka keluar dari bibir pengurus kantor pos “Lazim ruh ila mathor qodhimah” (wajib pergi ke bandara Kairo). Sebuah jawaban yang tak ku harapkan, namun aku harus sabar dan tabah demi pengambilan paket itu. Aku pun segera merencanakan untuk pergi ke bandara Kairo besok pagi. Akhirnya kami pun pulang tanpa membawa sesuatu kecuali info pengambilan paket di bandara Kairo. Sebuah kisah yang membuat ku belajar banyak tentang kehidupan.

Rabu, 04 Februari 2009

Terpesona di Cairo International Book Fair

Jam menunjukan pukul 10:00 siang, aku masih berkomunikasi dengan sang Bidadariku yang jauh di sana. Ku akui, aku sangat rindu dengan semua orang yang aku cintai di Indonesia. Namun kerinduan ini membuatku semakin teguh dan kuat dalam menuntut ilmu, karena mereka lah motivatorku yang hebat. Ketika aku sedang asyik berkomunikasi dengan bidadariku, tiba-tiba saja bel flatku berbunyi, ternyata yang berkunjung di flatku adalah temanku yang bernama Iwan Sholihuddin. kedatangannya membuatku teringat akan janjiku kepadanya bahwa hari ini aku bersamanya untuk pergi ke Cairo International Book Fair. Akhirnya aku pun bergegas dan bersiap diri untuk jalan-jalan dan sekaligus belanja di Cairo International Book Fair.

Cairo International Book Fair ini hanya diselenggarakan satu tahun sekali, dan biasanya diadakan pada awal tahun yaitu bulan januari dengan rentang waktu penyelenggaraanya hanya sepuluh hari hingga dua minggu saja. Di sana banyak sekali buku-buku dari seluruh dunia, mulai dari Italia, Inggris, Amerika, dan lain sebagainya. Namun disana lebih banyak buku yang berasal dari timur tengah, terutama Negara-Negara Arab. Bahkan yang berasal dari Indonesia juga ada, namun tidak terlalu banyak. Yang intinya disini banyak buku-buku yang bagus-bagus dan keren-keren deh.

Sesampainya di pintu gerbang Cairo International Book Fair, aku sempat terpana dengan animo masyarakat mesir yang begitu tinggi dengan diadakannya Cairo International Book Fair ini, terbukti disetiap bus terpampang tujuan Cairo International Book Fair, “wah… hebatnya Mesir, seandainya Indonesia seperti ini” sebuah fikiran yang mengglitik itu tiba-tiba saja muncul di dalam diriku akan Negara tercinta ku itu. Belum hilang keterpanaan diriku terhadap Cairo International Book Fair, kali ini kekagumanku yang mulai muncul menyelimuti jiwaku, aku melihat sebuah gerbang masuk Cairo International Book Fair yang indah dan didesian begitu unik, dan hebatnya lagi kawasan yang begitu luas itu hanya dikhususkan acara tahunan ini.

Ketika ku mulai masuk ke dalamnya, aku melihat banyak anak kecil yang berlarian kesana kemari dengan ditemani ibundanya, seorang bapak yang cacat di dorong dengan kursi roda, para turis-turis asing, dan lain sebagainya, semuanya hanya ingin membeli buku-buku di Cairo International Book Fair ataupun hanya sekedar melihat kemegahan Cairo International Book Fair kali ini.

Ketika aku hendak membeli buku di sebuah toko kitab, tiba-tiba terdengar kumandang adzan dzuhur memanggil orang-orang yang beriman untuk segera tersungkur dan mendekatkan diri kepada Allah SWT., akhirnya ku memutuskan untuk segera bergegas untuk memenuhi panggilan itu. Jarak antara toko kitab yang ku kunjungi dengan masjid tidak lah jauh, sehingga aku bisa bersegera untuk menunaikan sholat sunnah dua rokaat, sambil menikmati indahnya waktu kemustajaban doa antara adzan dan iqomah. Tenangnya hatiku jika dekat denganNya, sang pencipta mata ini, sang pencipta otak ini, pencipta hati ini, sehingga aku dapat merasakan bagaimana indahnya dan luasnya ilmu Allah SWT.. Ya Allah, ampunkanlah dosa-dosa hambamu ini dengan penuh pengharapan.

Setelah selesai shalat berjamaah dzuhur, aku langkahkan kaki ku untuk membeli buku-buku, ku yakin dengan membeli buku-buku itu aku akan semakin cinta kepadaNya, dan juga semakin dekat kepadaNya. Karena bagiku, orang yang semakin dalam ilmunya maka ia akan semakin mengetahui bagaimana hebatnya dan takjubnya ciptaan Allah di alam yang fana ini, ia akan menemukan tanda-tanda kebesaran Allah yang akan membuatnya selalu berdzikir kepada Allah dengan keikhlasan dan ketundukan sebagai hamba.

Di Cairo International Book Fair aku membeli buku lumayan cukup banyak, sehingga aku mengalami kerepotan saat membawa buku-buku belianku itu. Aku membeli buku tentang fiqh yang sesuai dengan jurusan kuliahku, bahkan aku juga membeli buku tentang cara mendidik anak dan juga tentang wanita sholihah, ini sebagai persiapanku untuk masa depanku yang tidak akan lama lagi akan menuju pelaminan. Aku harus mempersiapkan sedemikan rupa agar keluarga ku nanti menjadi keluarga yang sakinah mawaddah war rahmah, amin. Dan tak lupa pula aku membeli buku-buku karya Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, yang saat ini aku sungguh takjub dengan karya-karyanya yang fenomenal.

Sekitar tujuh jam aku berkeliling-keliling bersama temanku Iwan Sholihuddin, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di taman Cairo International Book Fair, disana aku dan temanku menikmati karunia Allah yang sungguh nikmat sekali, yaitu menyantap isy dan satsuka (Jenis makanan pokok di Mesir) ditemani oleh rumput-rumput yang indah dan suilan burung-burung gereja yang menari di atas ranting pohon.

Setelah kami menyantap makanan dan kami memutuskan untuk kembali ke flat dan beristirahat karena badan ku sudah amat lelah. Berjalan tujuh jam lebih dengan menenteng buku-buku yang ku bawa. Ohh… indahnya hari ini dan amat hebat ciptaanMu dan ilmu Mu ya Allah. Walaupun engkau memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali bagaikan satu tetesan air dari air lautan samudra, namun setetes ilmu itu, manusia mampu menerbitkan buku-buku yang begitu banyak sekali. Sungguh hebat nya ilmu Mu ya Allah.

Kamis, 29 Januari 2009

Selamat Datang Wahai Libur Musim Dingin “Aku akan Memanfaatkanmu”

“Wah… liburan sudah Tiba”, begitulah seonggok kegembiraan yang terbersit di dalam hatiku, ketika aku baru saja menyelesaikan ujian terakhirku di Universitas yang sangat ku banggakan atas kewibaannya, yaitu Universitas Al-Azhar Cairo. Ujian terakhirku ini adalah mata kuliah ilmu Tauhid. Yang ku fikir, aku akan menemukan kesulitan pada ujian mata kuliah yang satu ini. Bagaimana tidak sulit, jika godaan dan rayuan untuk segara libur setelah selesai ujian selalu saja menghantui setiap belajarku. Namun masa depan dan Sang Bidadariku yang sedang menunggu jauh di sana lah yang membuatku untuk bangkit dalam lamunan dan ketidaksadaranku agar aku selali meningkatkan belajarku, itulah yang membuat hatiku terus bersemangat bagaikan api yang berkobar-kobar untuk menggapai cita-cita tertinggiku, yaitu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.


Sebuah senyuman merona di kedua bibirku ketika aku baru saja keluar dari ujian terakhirku ini, “Ujian yang sempurna” banggaku dalam hati. Ujian yang terakhir ini aku lewati dengan senyuman dan kesyukuran tiada henti, walaupun aku belum mengetahui hasilnya, namun aku yakin Allah SWT. akan memberikan hak kepada orang yang mau bekerja keras dan berusaha, sehingga ku kuatkan dan ku tancapkan dalam setiap doa dan linangan air mataku untuk selalu bertawakal kepadaNya. Hanya Beliaulah yang sanggup merubah segala sesuatu yang mustahil menjadi ada. Engkau sungguh dan sungguh Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Dua bulan lebih ke depan aku akan menjejaki libur musim dingin yang cukup panjang ini, berbagai rencana dan rangkaian kegiatan telah ku susun rapih untuk mengisi liburanku, mulai dari mengikuti les hingga ikut aktif berkecimpung di dalam dunia keorganisasian. Bagi kebanyakan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al-Azhar, kesempatakan liburan ini dijadikan mereka sebagai bahan melatih diri untuk selalu berkarya demi masa depannya dan kehidupannya. Begitupun dengan aku, seorang mahasiswa yang biasa-biasa saja, namun aku mempunyai cita-cita yang cukup luar biasa (Rahasia yah cita-citanya hehehe!!!). sehingga kesempatan liburpun aku gunakan semaksimal mungkin untuk menggapai cita-citaku yang luar biasa itu.

Angin semilir sepoi-sepoi, seakan-akan ingin mengajakku dan meninabobokanku untuk terlelap dalam kekantukan, namun kukuatkan mata ini untuk terus memandangi setiap sudut kota Kairo yang indah dan juga menarik hatiku. Di atas buslah aku menikmati kebesaran dan kehebatan ciptaan Allah SWT. yang sungguh luar biasa dahsyatnya itu. Aku naik bus Tiga Jim (Nama bus) jurusan Kuliah Banat (Universitas Al-Azhar khusus wanita), karena bus delapan puluh coret (Nama bus) jurusan Hayy ‘Asyir (Nama daerah tempat tinggalku) yang sering ku tumpangi tak kunjung tiba, akhirnya aku memutuskan untuk menaiki bus Tiga Jim.

Terasa pusing sekali kepalaku, seperti ada segerombolan burung yang sedang berkeliling-liling di atas kepalaku. Bagaimana tidak pusing, jika aku baru saja menyelesaikan ujian terakhirku, apalagi perut ku yang sudah mulai bersuara dan berdemo agar segera ditransfer makanan, ditambah dengan bus Tiga Jim yang ku tumpangi agak tidak layak untuk menjadi bus angkutan umum. Namun aku tetap bersyukur dengan segala nikmatNya yang ku rasakan saat ini, nikmat yang sungguh hebat dan tak terhingga, terima kasih Allah.

Sesampainya di Kuliah Banat, aku langsung menaiki El-Tramco (Sejenis Koasi) jurusan Hayy ‘Asyir agar aku segera sampai ke flatku yang sejuk dan damai itu. Aku ingin segera sampai di flatku agar aku dapat membaringkan tubuhku yang sudah hampir satu bulan ini aku banyak mengambil hak-hak tubuhku ini untuk bergelut dengan diktat-diktat Doktor dan ujian-ujian yang menegangkan sekaligus mengasyikkan.


Akhirnya aku sampai juga di flatku, aku benar-benar merebahkan tubuhku di tempat tidur pemberian dari seniorku, ku terlelap sekali dalam bunga-bunga mimpi, dan ku tatap hari esok dengan semangat yang tinggi dan menggebu-gebu agar aku sukses di Negri Kinanah, Negri para Nabi, dan Negri yang pernah ku injak tanahnya ini. Yuk!!!, kita tatap masa depan dengan penuh optimisme dan kebijaksanaan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan menjadi hamba Allah SWT. yang sebenar-benarnya hamba. (www.nuraurora.co.nr)


Kamis, 05 Juni 2008

Ziarah Wali, Seru Looh!!

Pagi itu pagi yang dingin, aku di bangunkan oleh temanku untuk segera melaksanakan sholat shubuh “di…bangun shubuh, udah mau abis nih waktunya” seru efendy salam kepadaku, efendy adalah seoarang teman yang sangat rajin sekali sholat shubuh berjama’ah di masjid, ketika 2 bulan yang lalu, beliau adalah sahabat satu rumah denganku, tapi sayang tiba-tiba saja beliau ingin pindah rumah, dalam benak aku berbisik ketika beliau memutuskan pergi, “maafkan aku jika kepindahanmu gara-garaku"

Seruan itu samar-samar masuk dalam telingaku, langsung hatiku kaget dan sontak mulutku membaca istigfar, “astaghfirullah, ya….ga bisa sholat shubuh berjam’ah lagi nih” hati ku tersayat-sayat ketika melihat jendela sudah memancarkan sinarnya walaupun baru dikit, mungkin matahari malu-malu menampakkan cahaya nya kepadaku yang males ini.


-------------------


Pagi itu aku siap-siap untuk berangkat ziarah auliya bersama PCINU, aku ingin menziarahi maqom para aulia yang sangat banyak di mesir ini.


Aku mencuci wajahku dengan shabun, maklim pagi ini agak dingin, sehingga aku tidak memberanikan diri untuk mandi, cukuplah bagiku untuk mencuci muka dan berwudhu, kemudian aku memakai baju yang baru dicuci malam tadi, dan memaka wangi-wangian sebagai mengikuti sunnah Nabi, dan juga menghindari rasa bau karena belum mandl


Maka berangkatlah aku menuju bawabah talatah (sebuah desa dalam distrik Hay ‘Ashir), di sana lah tempat kumpulnya para penziarah aulia. Sesampainya di sana, aku melihat jejeran bus-bus parawisata yang nampak di gang bawabah talatah, jumlahnya cukup banyak, sekitar tujuh bus yang akan berangkat ziarah auliya. Kemudian aku bergumam di dalam hati, “wiiih…enak juga nih klo ziarah auliya naik busnya bagus kaya gini, hamdulillah”, hatiku rasa kagum dengan mahasiswa indonesia, yang mempunyai kekompakan yang sangat kuat, sehingga pagi-pagi sekitar pukul tujuh, sudah kumpul di bawabah talatah, ada yang sedang mengobrol-ngobrol dengan membuat lingkaran kecil, ada juga yang sedang melamun, bahkan ada yang sedang mondar-mandir, maklum panitia, “ya Allah berikanlah pahala yang besar bagi panitia yang sudah sedemikian sibuknya untuk mengadakan acara yang mulia ini”.


Akhirnya aku dan kawan-kawan untuk menaiki bus, dan aku mendapatkan bus yang terakhir, yaitu bus nomor tujuh, nomor satu dan dua diisi dengan mahasiswa wanita, dan selainnya diisi oleh mahasiswa pria. Perjalanan yang indah dan menyenangkan, hamdulillah.


-------------------------


Perjalanan yang pertama kami menuju ke maqom seorang yang masyhur di mesir bahkan dunia, sang pengarang kitab fenomenal yaitu al-Hikam, Ibn Athoillah as-Sakandary, sesampainya di sana ternyata makamnya masih ditutup, akhirnya kami memutuskan untuk menziarahi makam Abi Jamrah, guru dari Ibn Athoillah as-Sakandary, seoarang yang menulis Mukhtashar Ahadits al-Bukhary. Setelah mengunjungi makam Abi Jamroh, sejurus kemudian kami pun ziarah ke makam Ibnu Athoillah as-Sakandary.


Perjalanan kedua, kami menuju ke makam Imam Syafi’I yang berkawasan di sayyidah aisyah, di kawasan inilah banyak sekali makam auliya, seperti Imam Syafi’I salah satu dari madzhab yang empat, dan madzhab yang menjadi rujukan orang indonesia pada umumnya. Ada juga benteng sholahuddin al-Ayubi, benteng ini dibangun pada masa kekhalifahan fatimiyah, yang berfungsi untuk mencegah serangan musuh pada saat itu, ada juga makom syaikhul Islam ibn Hajar al-Asqolani, beliau adalah pengarang kitab yang fenomenal, yaitu Fath al-Bary bi Syarh al-Bukhari, ada juga makam Robiah al-Adawiyah , seorang sufi wanita terkenal pada masanya, ada juga makam Zakariya al-Anshory, dengan karyanya yang terkenal, fathul wahab, makam Imam al-Laits bin Sa’ad, guru imam syafi’i dalam bidang fikih, Dzunun al-Misry, seorang ulama dan waliyullah, Uqbah bin Amir, salah satu sahabat Nabi, dan yang terakhir hasan al-Bashri.


Perjalan terakhir, kami menuju ke kawasan sayyidah Nafisah, di sana ada makam sayyidah Nafisah salah satu putri Nabi Muhammad Saw., Ibnu Sirrin sang pengarang buku tafsir mimpi yang terkenal, dan Sayyidah Sukainah salah satu ahli bait dari keturunan Ali ra.


--------------------------


Badanku terasa pegal-pegal sekali, setelah seharian penuh kami ziarah ke makam Auliya, dan aku pun tertidur bersama teman-teman serumah, dangan wajah tersenyum dan bahagia.

Template by - Abdul Munir - 2008